Selasa, 07 Februari 2012

Sharing pengalaman cara mendapatkan ISO 9001: 2008 (oleh Sunarno)


ISO = International Organization for Standardization (lembaga yang bergerak dalam bidang pengukuran manajemen suatu lembaga) artinya pengakuan dunia terhadap keberadaan organisasi/lembaga kita, sudah sesuai/ memenuhi berbagai persyaratan sistem manajemen (batas minimal yang disyaratkan oleh ISO)
ISO 9001 adalah standar internasional yang diakui untuk sertifikasi Sistem Manajemen Mutu (SMM).
ISO 9001:2008 : Pengakuan Internasional dalan bidang Sistem Manajemen Mutu, bila telah memperoleh ISO 9001:2008 diharapkan dapat lebih meningkatkan kepercayaan mitra bisnisnya/ stake holdernya. Saat ini penerapan sistem manajemen mutu ISO 9001 berlangsung di berbagai sektor bisnis komersil manufaktur ataupun jasa serta organisasi non profit dan institusi pemerintahan, ISO 9001:2008 mulai berlaku th.2010 ( sebelumnya ISO 9001:2000)
Sistem Manajemen Mutu ISO 9001:2008 sebagai Standar yang generik memerlukan dokumentasi dengan intepretasi yang tepat sesuai bidang industri maupun layanannya serta penerapannya membutuhkan strategi agar diterima dan dijalankan oleh semua karyawan, mulai dari kepala sampai dengan petugas kebersihan.
Manfaat ISO 9001:2008 :
.. Meningkatkan Kepercayaan Pelanggan
• Jaminan Kualitas Produk dan Proses
• Meningkatkan Produktivitas perusahaan
• Meningkatkan motivasi, moral & kinerja karyawan
• Sebagai alat analisa kompetitor perusahaan
• Meningkatkan hubungan saling menguntungkan dengan
pemasok
• Meningkatkan cost efficiency & keamanan produk
• Meningkatkan komunikasi internal
• Meningkatkan image positif perusahaan
• Sistem terdokumentasi
• Media untuk Pelatihan dan Pendidikan

CARA MEMPEROLEH ISO 9001:2008

Ada beberapa tahapan kegiatan :
1.Persiapan
2.Pembimbingan
3.Penyediaan Dokumen
4.Audit Internal
5.Audit Eksternal
6.Perbaikan (bila ada temuan mayor)
7.Survaillance (Tinjauan ulang)

A.Tahap Persiapan:
1.Sosialisasi kepada semua pihak/karyawan yang terlibat di dalam instansi/lembaga (memberikan gambaran, motivasi, pengarahan  mau melaksanakan)
2.Pembentukan kepanitiaan ( manajer/kepala, wk.manajer/ koordinator pelaksana, sekretariat, koordinator bagian dan tim auditor)
3.Tentukan bagian-bagian yang akan dinilai/diajukan untuk disertifikasikan, setiap bagian di pimpin oleh koordinator bagian.

B.Tahap Pembimbingan
Pembimbingan ini ada 2 macam yaitu Pembimbingan Internal & Pembimbingan Eksternal, keduanya berjalan bersamaan.
Secara keseluruhan kita dibimbing oleh Pembimbing Eksternal, yang telah mempunyai banyak pengalaman dan bekerja secara profesional namun dalam melaksanakan kegiatan kita dibimbing oleh Pembimbing Internal yang berlaku secara hirarki. Panitia dikoordinir oleh wakil manajer, auditor dikoordinir oleh lead auditor, karyawan dikoordinir oleh koordinator bagian.

Kegiatan dalam tahap pembimbingan ini antara lain:
1.Mendata/merinci jenis pekerjaan yang ada pada setiap bagian.
2.Setiap jenis pekerjaan harus dibuatkan SOP/IK dan alur kerjanya (flowchart) SOP(Standard Operasional Prosedur)  apabila pekerjaan tsb melibatkan orang, bagian/lembaga dari luar bagian tersebut, sedangkan IK (Instruksi Kerja)  apabila pekerjaan tsb tidak melibatkan orang, bagian/lembaga dari luar bagian tersebut. Contoh terlampir.
Hal ini dimaksudkan agar setiap jenis pekerjaan apapun bisa dikerjakan oleh siapapun.

3.Setiap bagian yang akan dinilai tentukan sasaran mutunya, perlu diperhatikan dalam menentukan sasaran mutu ini, kita harus mengantisipasi bahwa sasaran mutu tsb betul-betul bisa kita capai, namun jangan terlalu rendah. Hal ini diharapkan agar makin lama sasaran mutu kita makin meningkat.
4.Setiap sasaran mutu harus bisa diukur capaiannya, tentunya harus kita persiapan dokumen alat ukurnya.

C.Penyediaan Dokumen.
Semua kegiatan apapun yang ada harus kita tulis (dokumenkan) dan begitu sebaliknya apapun yang sudah kita tulis harus dilaksanakan.
Dalam penyediaan Dokumen ini ada banyak dokumen yang al:
1.Pedoman mutu
2.Prosedur wajib
3.SOP
4.IK
5.Flowchart
Contoh terlampir.

D.Audit Internal
Pelaksanaan kegiatan mulai dari persiapan sampai dengan Audit Eksternal kita prediksi kurang lebih 6 – 10 bulan, setelah berjalan + separuhnya, maka kegiatan audit internal bisa dimulai, masing-masing bagian harus sudah menyiapkan dokumen-dokumennya.
Untuk lebih jelasnya akan disampaikan Bu Riah (Bag. Audit Internal)
E.Audit Eksternal ;
Setelah dilakukan audit internal oleh tim audit dan dirasa sudah cukup baik serta memenuhi baik dokumen maupun sasaran mutunya, maka langkah selanjutnya adalah mendaftarkan untuk diaudit dari luar oleh lembaga lebih profesional dan diakui internasional, misalnya SECOFINDO, SAI Global, dsb. Dalam pelaksanaan audit eksternal ini, ada 3 (tiga) kategori temuan :
1.Temuan mayor (kesalahan berat)
2.Temuan minor (kesalahan ringan)
3.Rekomendasi (saran/anjuran)
Apabila tidak ada temuan mayor, maka hal tersebut dapat direkomendasikan untuk memperoleh sertifikasi ISO 9001:2008. apabila hal ini berjalan lancar, dalam jangka waktu + satu (1) bulan sertifikat ISO baru diterbitkan oleh lembaga pengaudit (auditor) sebagai tangan panjang dari lembaga penerbit ISO., namun apabila ada temuan mayor, maka tidak bisa direkomendasikan untuk memperoleh sertifikasi ISO 9001:2008, dan akan diberi kesempatan untuk membenahi kekurangannya (hasil temuannya) maksimal selama 3 (tiga) bulan.
F.Perbaikan. (bila ada temuan mayor)
Apabila ada temuan mayor seperti tersebut di atas, misalnya tidak melaksanakan tagihan keterlambatan pinjaman buku, tidak ada titipan barang, atau mungkin antara SOP dan kenyataan dilapangan tidak sesuai dan sebagainya, maka auditor akan memberikan peringatan/teguran serta memberikan kesempatan kepada kita (yang diaudit) untuk membenahi/memperbaiki kesalahan tersebut dalam jangka waktu maksimal 3 (tiga) bulan, setelah 3 bulan kita akan di audit kembali, apabila sudah diperbaiki dan sudah tidak ada temuan mayor, maka lembaga kita dapat direkomendasikan untuk memperoleh sertifikasi ISO 9001:2008, namun sebaliknya apabila masih ada temuan mayor, maka untuk memperoleh sertifikasi ISO 9001:2008 harus diulang/dimulai dari awal (dari persiapan dst)

G.Survaillance (Tinjauan ulang)
Sertifikat ISO 9001 : 2008 ini berlaku untuk 3 (tiga) tahun kedepan sejak tanggal diterbitkannya ISO, namun setiap 6 (enam) bulan (setahun 2 kali) akan diadakan tinjauan ulang (surveilance) oleh auditor eksternal (point F). Bagian yang di audit tidak semua biasanya hanya satu atau dua bagian saja, sedangkan yang menentukan bagian mana yang diaudit itu dari pihak auditor, sehingga pada intinya kita semua harus mempersiapkan diri bila di audit kapan saja. Perlu diingat apabila dalan surveiland ini ada temuan mayor, maka kita akan diberi waktu satu (1) minggu untuk memperbaiki temuan mayor tersebut, kalau tidak sanggup maka sertifikat ISO akan dipending oleh auditor.

Terima kasih, semoga pengalaman ini bisa memberikan motivasi kepada teman-teman untuk mendapatkan sertifikat ISO 9001:2008 serta meningkatkan sistem kinerja kita semua, untuk mewujudkan UNS sebagai Word Class University

[+/-] Selengkapnya...

Jumat, 03 Februari 2012

TEMU ILMIAH DAN RAPAT KERJA IKATAN PUSTAKAWAN INDONESIA KOTA SURAKARTA TAHUN 2012

TEMU ILMIAH DAN RAPAT KERJA
IKATAN PUSTAKAWAN INDONESIA SURAKARTA TAHUN 2012


1.Latar Belakang
Perpustakaan sebagai lembaga pengumpul, pengelola dan penyebarluasan informasi dan ilmu pengetahuan mempunyai peran yang signifikan terhadap masyarakat penggunanya. Berbagai jenis perpustakaan akan membawa warna dan khasanah keilmuan, sehingga memberikan nilai kekayaan budaya bangsa. Perpustakaan sekolah merupakan pusat sumber belajar di sekolah, dari tingkat dasar sampai dengan tingkat menengah. Perpustakaan perguruan tinggi mencakup lembaga pendidikan tinggi seperti Akademi, Sekolah Tinggi, Institut, sampai dengan Universitas, Perpustakaan Umum atau Perpustakaan Daerah, Perpustakaan Khusus di lembaga/instansi pemerintah/swasta dan Taman Baca ada di mana-mana dan banyak sekali jumlahnya, semua ini memberikan andil yang sangat besar dalam mencerdaskan masyarakat.
Perpustakaan harus dapat memainkan perannya, khususnya membantu masyarakat dalam memenuhi kebutuhan informasinya, untuk mencapai tujuan tersebut, perpustakaan perlu merealisasikan misi dan kebijakannya dengan mempersiapkan tenaga pustakawan yang memadai, koleksi dan sarana yang berkualitas serta serangkaian aktifitas layanan yang mendukung dan menarik bagi masyarakat. Tugas ini tidaklah mudah, dalam memajukan masyarakat melalui ilmu pengetahuan dan informasi, perpustakaan harus dapat memberikan layanan kepada masyarakat secara aktif dan bahkan agresif, semua ini menjadi tanggung jawab bagi seluruh elemen masyarakat, pemangku kebijakan pada setiap instansi terkait dan juga negara. Dengan adanya perpustakaan, maka pemustaka dapat memperoleh pengetahuan atau informasi yang dibutuhkan, sehingga mereka menjadi mengerti, pintar atau berilmu pengetahuan dengan memanfaatkan koleksi di perpustakaan.
Untuk mencapai tujuan tersebut, perpustakaan perlu dikelola oleh pustakawan yang memiliki tanggung jawab dan dedikasi yang tinggi terhadap layanan perpustakaan, dengan demikian diharapkan segala permasalahan pemustaka dalam kegiatan di bidang pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat dapat ditemukan jawabannya melalui perpustakaan. Perpustakaan mempunyai andil besar dalam mencerdaskan masyarakat, lewat perpustakaan masyarakat diharapkan melek informasi, terbiasa dengan aktifitas membaca sehingga menjadi lebih cerdas. Perpustakaan menjadi pusat belajar dan pusat informasi bagi masyarakat dalam mencari informasi dan ilmu pengetahuan. Selain kinerja pengelola perpustakaan serta koleksi yang baik, aktifitas layanan perlu diberdayakan guna mendukung peran perpustakaan. Oleh sebab itu peningkatan pelayanan perpustakaan harus terus dikembangkan agar selalu up to date dan dapat mengikuti perkembangan pemustakanya.
Kita semua menyadari bahwa perpustakaan memegang peran vital dalam usaha peningkatan kualitas manusia, karena perpustakaan adalah sarana sumber belajar masyarakat. Namun kita dihadapkan pada kenyataan bahwa kondisi perpustakaan secara umum belum sesuai harapan, kendala utamanya masih pada masalah-masalah klasik seperti belum adanya tenaga yang berkualifikasi pustakawan, koleksinya sangat terbatas dan tidak ada anggaran rutin untuk pengelolaan perpustakaan. Seiring perjalanan waktu dan semakin banyaknya calon pustakawan baru yang memiliki semangat dan kinerja yang baik dalam memajukan perpustakaan, sehingga tidak membuat kita pesimis, namun mari kita cari solusi dan pemecahannya, sehingga orang lain dapat melihat hasil karya yang nyata di perpustakaan dan pustakawan dapat memberikan pelayanan yang memuaskan kepada pemustakanya
Para pemangku kebijakan, intelektual, pengajar, pustakawan, pegawai, dan masyarakat umum bertanggung jawab untuk menjadikan anak-anak bangsa menjadi generasi yang pintar, cerdas dan berkualitas serta berakhlak mulia. Tugas mulia ini ditunjukkan dengan peningkatan kinerja dan pengembangan organisasi profesi pustakawan. Oleh karena itu, Temu Ilmiah dan Rapat Kerja Ikatan Pustakawan Indonesia Surakarta Tahun 2012 ini penting untuk dilaksanakan oleh Ikatan Pustakawan Indonesia Surakarta dalam upaya untuk mempertemukan seluruh anggota, pustakawan dan pengurus dalam menyatukan visi dan misi organisasi serta merencakan kegiatan yang akan dilaksanakan pada tahun 2012.

3.Tujuan dan Manfaat Kegiatan
Temu Ilmiah dan Rapat Kerja Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI) Surakarta ini berupaya untuk mempertemukan pengurus, anggota dan intelektual, dengan tujuan :
a.Memberikan wawasan dan pemahaman kepada pustakawan tentang peran penting dan tugas profesional dalam usaha menciptakan dan memberikan pelayanan prima kepada pemustaka.
b.Meningkatkan kinerja pustakawan, menumbuhkan kesadaran bersama untuk mengembangkan perpustakaan, sehingga akan terwujud suatu kesepakatan dan kerjasama antara pengurus dan anggota Ikatan Pustakawan Indonesia Surakarta dalam menjalankan organisasi.

Adapun Manfaat Kegiatan Temu Ilmiah dan Rapat Kerja Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI) Surakarta adalah:
a. Secara akademis kegiatan ini bermanfaat untuk menambah wawasan dan pengetahuan kepustakawanan.
b. Secara teoritis untuk meningkatkan pemahaman pustakawan tentang profesionalisme pustakawan.
c. Sedangkan secara praktis, kegiatan ini memberikan kontribusi kepada pengurus dan anggota dalam rangka konsolidasi organisasi Ikatan Pustakawan Indonesia Surakarta.

4.Metode Pelaksanaan Kegiatan
a. Penyampaian materi temu ilmiah dan tanya jawab oleh narasumber yang berkompeten dalam bidangnya.
b.Rapat Kerja pengurus dan anggota IPI Surakarta.

5.Materi Temu Ilmiah dan Rapat Kerja
a.Profesionalisme Pustakawan di Era Teknologi Informasi
b.Konsolidasi dan Sosialisasi Program Kerja IPI Surakarta tahun 2012.

6.Narasumber
a.Sri Rohyati Zulaikha,S.Ag.,S.S.,M.Si. (Dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)
b.Drs. Widodo, M.Soc.Sc. (Kepala UPT Perpustakaan UNS Surakarta)
c.Sunarno, S.Sos (Ketua IPI Surakarta)

7.Peserta Temu Ilmiah dan Rapat Kerja
Peserta Temu Ilmiah dan Rapat Kerja Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI) Surakarta Tahun 2012 ini adalah pengurus, anggota dan tamu undangan Ikatan Pustakawan Indonesia Surakarta.

8.Waktu dan Tempat Penyelenggaraan
Temu Ilmiah dan Rapat Kerja Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI) Surakarta Tahun 2012 ini dilaksanakan pada hari Selasa, tanggal 14 Pebruari 2012 di UPT Perpustakaan Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta Jl. Ir. Sutami 36 A, Kentingan, Surakarta. Telp. (0271)654311.

9.Pelaksana Kegiatan
Pelaksana kegiatan ini adalah Panitia Temu Ilmiah dan Rapat Kerja Ikatan Pustakawan Indonesia Surakarta Tahun 2012 dengan susunan panitia sebagai berikut:
Penanggung jawab : Sunarno, S.Sos
Ketua Panitia : Erland Cahyo Saputro, S.Sos.,M.Hum.
Wakil Ketua : Nyono, S.Sos.
Sekretaris : Haryanto, SIP
Bendahara : Ken Retno Yuniwati., SIP
Sie. Acara : Daryono, S.Sos
: Muhammad Sholihin, S.Ag. SIP.
: Drs. Sukirno, MM.
: Drs. Sutarno
Sie. Sekretariatan : Sapta Pujianta
: Kurniawati, A. Ma.
: Khoirul Maslahah, SIP
Sie Konsumsi : Dra. Mieke Hardjiatmi, S. Sos.
: Suparsi
: Mugi Rahayu
: Nushrotul Hasanah Rahmawati, S.Pd.
Sie Humas dan
Dokumentasi : Suroto, S.Sos.
: Warsito

10.Penutup

Proposal kegiatan Temu Ilmiah dan Rapat Kerja Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI) Surakarta sebagai gambaran dan pedoman pelaksanaan kegiatan sehingga dapat memberikan manfaat dan kejelasan bagi pelaksana dan pemberi pemahaman dari pemangku kebijakan dalam memberikan keputusan berkaitan dengan rekomendasi pelaksanaan kegiatan ini.
Proposal ini kami susun secara sederhana, semoga dapat bermanfaat. Masukan dan saran demi kebaikan pelaksanaan kegiatan ini sangat kami harapkan. Segala bentuk dukungan, partisipasi dan kerjasama kami ucapkan terima kasih

[+/-] Selengkapnya...

Rabu, 28 September 2011

RAPAT PENGURUS IPI DAERAH KOTA SURAKARTA

Sabtu, 10 September 2011
RAPAT PENGURUS IPI DAERAH KOTA SURAKARTA
DI STAIN SURAKARTA

Pada hari Sabtu Tgl. 10 September 2011, Pengurus IPI kota Surakarta mengadakan rapat rutin dan sekaligus halal bihalal, yang di adakan di Perpustakaan STAIN Surakarta.

1. Sambutan PR I STAIN Surakarta DR. Modhofir abdullah,S.Ag., M.Pd

Dalam sambutannya beliaun mengharapkan agar setiap pustakawan bisa menyuguhkan sesuatu yang terbaik tentang perbukuan. Selain itu beliau juga berpesan agar perpustakaan bisa berperan aktif dalam mencegah maraknya plagiarisme di dunia pendidika Indonesia.

2. Acara kedua diisi tauziah dan ikrar halal bihalal oleh Bp. H. Sukirno, M.M

Dalam tauziahnya H Sukirno menekankan pentingnya ukuwah islamiah dikalangan umat islam dalam menghadapi globalisasi dunia

3. Rapat Pengurus

Rapat ini dipimpin langsung oleh ketua IPI kota Surakarta Bp. Sunarno, S.Sos
Rapat membahas dan mematangkan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga IPI kota Surakarta

[+/-] Selengkapnya...

Pustakawan UGM Raih Juara 1 di Tingkat Nasional Margaret Puspitarini

JAKARTA - Jika mahasiswa dan bidang kearsipan Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta telah menuai berbagai prestasi, pustakawan UGM, Nur Cahyati Wahyuni juga tidak ingin ketinggalan.

Nur Cahyati berhasil menjadi jawara pertama dalam Seleksi Nasional Akademisi Berprestasi Nasional yang digelar oleh Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti) belum lama ini.Pustakawan Perpustakaan Unit I UGM tersebut meraih juara tersebut dengan menyisihkan 66 pustakawan lain dari sejumlah perguruan tinggi di Indonesia, seperti Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Institut Teknologi Bandung (ITB), dan Institut Pertanian Bogor (IPB).
Prestasi wanita yang juga penanggung jawab American Corner UGM ini tidak dicapai dengan mudah. Pasalnya, Nur Cahyati harus bersaing terlebih dahulu dengan 15 pustakawan lain di lingkungan UGM untuk terpilih sebegai pustakawan terbaik tingkat universitas.

Pada tahap awal, 60 pustakawan tersebut diseleksi menjadi 30 orang. Kemudian disaring kembali hingga 15 orang. Seleksi yang harus mereka lalui terdiri dari tes administrasi, presentasi makalah, dan focus group discussion.

"Waktu itu saya mempresentasikan makalah dengan tema Literasi Informasi," ujar Nur Cahyati menjelaskan. Demikian disitat dari situs UGM, Rabu (24/8/2011).

Konsep literasi yang ditawarkan wanita berkawat gigi ini adalah dengan merancang dan melaksanakan program paket informasi beasiswa bagi mahasiswa, library outreach program, program digital video conference, web chat di Perpustakaan, juga magang perpustakaan bagi mahasiswa internasional.

Selain itu, wanita kelahiran Surakarta, 2 September 1976 ini juga merancang standar operasi perpustakaan bidnag layanan pemustakan, teknis, administrasi, dan layanan American Corner serta merancang kegiatan perpustakaan UGM tahun 2011/2012.

Meski senang atas prestasi yang diraihnya, Nur Cahyati mengaku terbebani ketika mengikuti kompetisi tersebut. "Ya, saya merasa sedikit terbebani karena pada 2009 dan 2010, UGM berhasil meraih juara dua dan tiga. Jadi, banyak yang berharap agar saya bisa menjadi yang terbaik dalam seleksi kali ini," tutur pengurus Ikatan Pustakawan Indonesia Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta ini.

Menurut Kepala Perpustakaan UGM, Drs. Ida Fajar Priyanto yang juga menjadi juri dalam kompetisi tersebut, keberhasilan Nur Cahyati berdasarkan keunggulan yang dimilikinya di berbagai aspek. Di antaranya, segi visibilitas, baik di dalam maupun luar negeri, dan menghasilkan karya nyata bagi warga kampus dan masyarakat umum.

"Nur Cahyati rajin memberikan bimbingan dan pelatihan ke perpustakaan di daerah secara gratis dan juga mengenalkan perpustakaan di kalangan anak-anak," kata Ida menjelaskan.

Makalah yang dipresentasikan Nur Cahyati, lanjutnya, tidak hanya menawarkan konsep semata, tapi diimplementasikan secara nyata di kampus dan lingkungan masyarakat.

"Dia pernah mempresentasikan makalah ke luar negeri. Hal ini yang menjadi nilai lebih yang tidak dimiliki oleh peserta lain," ujarnya.(rhs)

[+/-] Selengkapnya...

Kamis, 22 September 2011

Rabu, 21 September 2011

PUSTAKAWAN DAN PERPUSTAKAAN DALAM MENGHADAPI TANTANGAN DI ERA GLOBAL, oleh : Blasius Sudarsono


Materi disampaikan dalam Seminar Nasional Perpustakaan dengan tema :
Kompetensi dan Sertifikasi Pustakawan
dalam Menghadapi Tantangan dan Persaingan Global
Bogor, 14 September 2011
PENDAHULUAN
Penulis menemukan empat kata kunci atas judul yang diberikan oleh Panitia Seminar. Empat kata kunci tersebut adalah: Pustakawan, Perpustakaan, Tantangan, dan Era Global. Sebenarnya begitu banyak yang dapat dibahas dengan judul tersebut. Oleh karena itu perlu upaya memaknai ke empat kata kunci tersebut untuk membatasi agar bahasan dapat lebih fokus pada hal yang mendasar saja. Secara logis, kata kunci yang dominan dari judul tersebut adalah pengertian dan makna Era Global. Apa yang sebenarnya dimaksud dengan istilah tersebut? Apa yang mungkin dapat terjadi dalam Era Global itu? Apa saja yang menyebabkannya? Selanjutnya mana saja yang menjadi tantangan bagi perpusta¬kaan dan pustakawan?

Dari pertanyaan tentang arti dan makna era global saja sebenarnya sudah dapat dibayang¬kan betapa luas bahasan yang mungkin disampaikan. Hal ini juga menyangkut begitu banyak tafsir atas istilah era global atau proses terkait, yaitu globalisasi. Perlu juga diper¬tanyakan apakah memang kita telah sepakat dengan apa yang dimaksud itu sebenarnya? Ataukah kita hanya terjebak dengan kelatahan menyebut era global atau globalisasi itu? Apakah pustakawan di Indonesia sudah menyepakati pengertian tersebut ditinjau dari sudut kepustakawanan? Jelas hal ini sudah dapat menjadi satu topik untuk dibahas secara mendalam. Dari bahasan mendalam inilah sebenarnya Pustakawan Indonesia dapat me¬nye¬¬pa¬kati arti dan makna yang jelas saat menyebut istilah tersebut. Namun adakah kemauan kita untuk tidak terjebak pada budaya sesaat (instant) dan/atau pola taken for granted, sehingga mau secara sareh membahasnya?
Dengan memahami pengertian Era Global atau Globalisasi maka dapatlah dipikirkan apa saja yang mungkin terjadi dan penyebabnya. Begitu banyak yang mungkin terjadi. Dari berbagai kejadian tersebut mana yang menjadi ancaman dan mana yang menjadi peluang bagi perpustakaan dan pustakawan? Lalu bagaimana Perpustakaan dan Pustakawan harus menghadapi beragam kejadian itu? Dalam hal ini diperlukan strategi dan kebijakan untuk menghadapinya. Perumusan strategi dan kebijakan menuntut pemahaman akan berbagai kejadian yang mungkin terjadi tersebut serta sebab-sebabnya. Yang jelas, kemampuan membedakan atas ancaman dan peluang menjadi mutlak diperlukan. Namun yang lebih penting adalah bagaimana mengubah ancaman menjadi peluang. Inilah sebagian kemam¬puan yang harus dimiliki pustakawan dalam membuat rencana strategis (renstra). Sebagian kemampuan lainnya adalah dalam hal mengubah kelemahan menjadi kekuatan. Kelemahan atau kekuatan adalah milik Perpustakaan dan Pustakawan. Jika kebanyakan memakai analisis SWOT, penulis lebih memilih pendekatan TOWS.
Apakah secara sadar Perpustakaan dan Pustakawan selalu berusaha untuk meningkatkan kemampuan¬nya? Pada dasarnya sebuah Perpustakaan adalah Pustakawannya. Jadi semua yang menyangkut kehidupan sebuah Perpustakaan sangat tergantung pada Pustakawannya. Terutama jika pustakawan sudah dianggap atau diterima sebagai Profesional merekalah yang harus menentukan hidup matinya Perpustakaan. Sayang belum semua lembaga menerima Pustakawan sebagai Jabatan Profesional. Dalam lingkup Kantor Pemerintah saja yang sudah menerima tugas Pustakawan dalam Jabatan Fungsional belum sepenuhnya sadar akan konsekuensi dengan adanya jabatan tersebut.
Konsekuensi ini salah satunya adalah dengan mengubah pola organisasi. Ternyata banyak organisasi Lembaga Pemerintah masih menerapkan pola Birokrasi yang sangat kuat. Padahal dengan mengakui adanya Jabatan Fungsional, selayaknya pola organisasi harus diubah menjadi Organisasi Profesional, atau minimal berpola Birokrasi Profesional (Sudarsono, 2005). Selayaknya ada kerjasama yang benar antara Pejabat Struktural dan Pejabat Fungsional Pustakawan. Hal ini justru belum digarap, bahkan kecenderungan yang terjadi ialah pola organisasi Lembaga Pemerintah semakin kuat menuju sifat birokratis feodalistis. Tidak terkecuali juga lembaga perpustakaan yang dimiliki Pemerintah. Namun pertanyaan yang sangat mendasar justru tertuju lebih dahulu pada diri Pustakawan. Apakah Pustakawan mau mengupayakan dirinya bertransformasi menuju Pribadi Profesional? Dengan memiliki kepribadian itu akan memungkinkan Perpustakaan melakukan transformasi dalam era global. Secara sederhana Pustakawan seharusnya melakukan peran utama, dan tidak hanya sekedar melakukannya dengan benar namun terlebih melakukan yang benar dalam menjawab setiap perubahan kejadian.

ERA GLOBAL (GLOBALISASI)

Istilah Era Global dan/atau Globalisasi sebenarnya sudah dibicarakan dan didengar saat kita akan memasuki milenium ketiga (dasawarsa 1990-an), bahkan jauh sebelumnya. Sebagai contoh, Allan Megill bahkan menyebut konsep globalisasi sebenarnya telah ada dalam The Communist Manifesto (1848). Dia menunjukkan kalimat dalam manifesto itu : the bourgeoisie has through its exploitation of the world-market given a cosmopolitan character to production and consumption in every country. Selanjutnya dia terangkan bahwa banyak pemikir abad sembilan belas yang mengindentifikasi munculnya hubungan Eropa dengan dunia luar Eropa, dalam arti upaya Eropa mendominasi dunia luar Eropa melalui perdagangan dan industri yang dikatakannya sebagai proses universal. Upaya membuat dan meyakinkan dunia luar Eropa dengan konsep Eropa itulah sebenarnya awal dari globalisasi. Roh awal globalisasi adalah pada kekuatan negara dan perekonomian yang digunakan Eropa untuk melakukan ”perang” menaklukkan dunia luar Eropa.
Kini konsep globalisasi ternyata tidak jauh meninggalkan roh awal tersebut. Maka tidak mengherankan jika terjadi pro and kontra atas globalisasi. Meskipun demikian nampak¬nya globalisasi telah menjadi keniscayaan. Bahkan sangat tidak mungkin membicara¬kan perkembangan sosial akhir-akhir ini tanpa merujuk pada globalisasi (Hamelink, 1999). Globalisasi menjadi jargon dalam setiap pembicaraan meski mungkin tidak disadari sepenuhnya arti dan maknanya. Menurut Hamelink, bahkan Anthony Giddens (sosiolog Inggris) sendiri menyatakan sangat sedikitnya pemahaman yang benar atas istilah itu. Untuk memahami konsep globalisasi, Hamelink membedakan dua pendekatan yaitu : 1) sebagai alat analisis dan 2) sebagai agenda politis. Dikatakannya bahwa sebagai alat analisis konsep globalisasi digunakan sebagai alat untuk mendiskripsikan dan menaf¬sirkan proses sosial kontemporer. Hasilnya ada dua kelompok. Pertama adalah yang mendu¬kung globalisasi dan kelompok kedua yang meragukan globalisasi. Berikut adalah pro dan kontra yang diidentifikasi Hamelink.
Kelompok pendukung melihat globalisasi dengan pandangan prositif seperti : ekonomi pasar bebas menguntungkan masyarakat luas; perdagangan dunia meningkat; percepatan pertumbuhan pasar finansial dunia; peningkatan mobilitas penduduk dunia; bentuk baru perusahaan dunia yang memeratakan proses industri dan menggantikan perusahaan multi nasional yang monopolistis; globalisasi adalah proses sosial yang mengintensifkan kesadaran dunia; kesalingtergantungan (interdependence) ekonomis akan merangsang kesalingtergantungan sosial dunia yang akan memperkokoh eratnya persahabatan antar bangsa; meningkatnya interaksi budaya akan lebih menjadikan saling memahami dan menghargai antar bangsa yang berbudaya berbeda, dll.
Di pihak lain, kelompok yang menentang atau meragukan pada konsep globalisasi jelas berbeda pendapat tentang apa yang diyakini oleh kelompok pendukung globalisasi. Apa yang disampaikan oleh kelompok pendukung dapat disebut masih sebatas ”teori” yang indah. Namun apa yang sebenarnya terjadi? Globalisasi sudah berjalan menghasilkan dampak pada kehidupan masyarakat dunia. Memang jelas ada yang diuntungkan, namun banyak juga yang dirugikan. Pihak pro menganggap yang mendorong globalisasi adalah perkembangan teknologi transportasi dan komunikasi. Pihak kontra sepakat, namun toh lebih menentukan adalah keputusan yang dibuat oleh institusi publik maupaun swasta. Dalam hal ini yang terpenting memang perlunya kebijaksanaan dalam menjawab globalisasi.
Globalisasi sebagai agenda politis juga menimbulkan pro dan kontra. Pihak pendukung menyatakan bahawa globalisasi menciptakan keterbukaan dunia dan pasar yang lebih kompetitif yang pada akhirnya akan meningkatkan kesejahteraan dunia. Hal ini disang¬gah oleh kelompok yang menolak karena agenda globalisasi adalah agenda politis neoliberal, jelas akan menguntungkan pihak yang memang sudah kuat. Ditekankan bahwa globalisasi tidak menuju kepada kesejahteraan dunia, namun justru menduniakan kemis¬kinan. Dalam bidang budaya dikatakan oleh pihak pendukung bahwa globalisasi akan mempromosikan keberagaman budaya. Di pihak lain pihak penentang mengatakan bahwa yang terjadi adalah pengemasan baru ide lama dari imperialisme budaya.
Hemelink menyebut tiga agenda terpenting untuk menjawab proses globalisasi yang sudah terjadi. Tiga hal tersebut adalah: 1) Globalisasi sebagai kepedulian kemanusiaan, 2) Globalisasi sebagai tantangan moral, dan 3) Globalisasi sebagai tantangan politis. Menurutnya, konsep globalisasi dapat digunakan untuk menyatakan aspirasi masyarakat dunia yang harus selalu menghormati hak asasi manusia, kepekaan dunia atas pen¬tingnya solidaritas global, serta pengakuan dan penerimaan keberagaman sosiokultural. Aspirasi ini mensyaratkan program dunia dalam pengembangan atas budaya hak asasi manusia (human right culture). Hal ini menjadi keniscayaan. Dikatakan kita harus belajar menjadi warga dunia (global citizens). Manusia perlu memperlajari kepekaan untuk hidup dalam dunia multikultur. Kewargaduniaan (global citizenship) bukan bawaan genetika namun hanya dapat diper¬oleh melalui pendidikan dan pelatihan yang ekstensif. Oleh karena itu kita harus mulai terlebih dahulu mendidik diri kita masing-masing dan menghayatinya.
Globalisasi memunculkan tantangan moral. Mengutip Richard Rorty, Hamelink menyata¬kan tidak ada jaminan bahwa penerapan teknologi akan menjadikan keluarga di negara (kurang) berkembang cukup kaya untuk membesarkan anak-anaknya seperti terjadi pada negara maju. Dengan pertanyaan lain : ”Apakah keluarga kaya di negara maju mau berbagi sebagian kekayaan¬nya untuk ikut membesarkan anak-anak di negara berkembang jika dapat mengakibatkan ancaman bagi anak-anak mereka sendiri di kemudian hari?” Hanya satu jalan bagi pihak kaya dapat berpikir diri mereka adalah bagian masyarakat moral yang sama dengan masyarakat miskin, jika dan hanya jika ada skenario yang memberikan harapan bagi anak-anak miskin tanpa menimbulkan ancaman bagi anak-anak mereka.
Dengan kata lain: si kaya hanya mau berbuat sesuai prinsip moral solidaritas kemanusia¬an yang menjamin kepentingannya tidak akan terganggu atau bahkan terancam. Yang menjadi tantangan moral adalah bahwa aspirasi globalisasi bagi pihak miskin tidak dapat direalisasikan tanpa adanya konsep yang secara serius membatasi prospek pihak kaya. Dalam hal inilah terjadi tarik-menarik kepentingan. Perlu adanya rumusan moral untuk dapat dipakai sebagai pandangan hidup bersama antara si kaya dan si miskin. Jika keduanya tetap hidup dalam nilai moral berbeda, maka pendidikan untuk menghasilkan kewargaduniaan akan gagal. Suatu konsep moral baru perlu dikembangkan dan dipakai sebagai pandangan hidup masyarakat baru dunia global. Niat ini menjadi salah satu tantangan politis globalisasi.
Tentang tantangan politis globalisasi, Hamelink mengatakan diperlukan negara yang kuat dan proaktif untuk menanggulangi dampak negatif globalisasi di bidang tertentu seperti kesempatan kerja dan jaminan sosial. Jika perdagangan global diharapkan mengarah pada terciptanya keseimbangan ekonomi dan perkembangan sosial, maka jelas diperlukan adanya institusi publik yang kuat. Diperlukan mobilisasi dari masyarakat sipil dunia (global civil society) agar menjadi kekuatan sentral untuk mewujudkan kedaulatan warga dunia. Kedaulatan warga masyarakat saja kini terancam oleh mekanisme negara moderen dan pola perekonomian dan aliran modal. Ancaman ini selayaknya dihadapi dan dikawal oleh warga sendiri. Beruntunglah kemajuan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) sangat bermanfaat dan menjadi tulang punggung interaksi warga dunia.
TIK DAN PERPUSTAKAAN
Di atas telah disebut oleh Hamelink bahwa teknologi transportasi dan telekomunikasi disepakati baik oleh pihak pro maupun kontra globalisasi sebagai faktor pendorong utama. Pernyataan itu adalah kondisi pada Tahun 1999. Nampaknya meski teknologi transportasi tetap menjadi utama, namun ternyata teknologi informasi kini lebih dominan. Sehingga tidak salah jika teknologi informasi dan telekomunikasi (TIK) menjadi tulang punggung interaksi warga dunia. Selain menjadi tulang punggung, TIK terbukti juga menjadi pemacu interaksi tersebut. Hal-hal yang dahulu masih menjadi angan-angan kini sudah terwujud. Bahkan yang dahulu tidak pernah terpikirkan justru sekarang muncul karena adanya TIK. Dapat dibayangkan betapa kini keseharian hidup kita ternyata sangat tergantung TIK. Salah satu contoh adalah penggunaan telepon selular
Perpustakaan juga tidak luput dari pengaruh TIK. Bahkan saat sekarang perpustakaan tanpa TIK dapat disebut perpustakaan ”kuna”. Keadaan ini jauh berkembang dibanding dasawarsa 1980-an, saat PDII-LIPI mulai menerapkan sebagian proses dokumentasinya dengan bantuan komputer. Masih ada pendapat dari tokoh pustakawaan yang mengatakan bahwa perpustakaan belum memerlukan komputer. Kebalikannya, kini dapat dikatakan kebanyakan pusta¬kawan melihat komputerisasi sebagai tolok ukur utama kemajuan. Juga seakan menjadi kewajiban perpustakaan tampil dalam jaringan internet. Banyak perpusta¬kaan membangun situsnya. Namun belum semua perpustakaan menyediakan akses atas pustaka yang dimiliki. Situs yang dikembangkan pada umumnya masih terbatas pada deskripsi perpustakaan saja.
Kelambatan atas upaya akses pada koleksi yang dimiliki perpustakaan, menyebabkan kalah bersaing dengan situs yang dikembangkan oleh pihak non-perpustakaan yang sudah menyediakan akses pada informasi yang mereka miliki. Atau dengan situs yang memang khusus menyediakan akses informasi maupun pengetahuan. Tidak mengherankan jka ada pendapat yang mengatakan bahwa kini tidak diperlukan lagi perpustakaan karena semua informasi dapat ditemukan di Internet. Secara bergurau sering juga didengar pernyataan: ”Dari pada tanya pustakawan, kenapa tidak tanya pada mbah Google jika memerlukan informasi?” Pertanyaan itu merupakan tantangan langsung pada pustakawan. Jawabnya tentu tergantung pada pustakawan sendiri apakah manusia mau dikalahkan oleh sekedar mesin pencari informasi (search engine)? Bagaimana perpustakaan akan menghadapi perkembangan internet dapat dirujuk juga tulisan yang penulis sampaikan pada tahun 2009 (Sudarsono, 2009 a).
Teknologi web sendiri juga sudah berkembang begitu cepat. Kini generasi web kedua atau lebih dikenal dengan Web 2.0 sudah menjadi platform kerja. Fenomena ini berawal pada tahun 2004 dengan diselenggarakannya konferensi mengenai Web yang diprakarsai Tim O'Reilly dan MediaLive International. Menurut Paul Graham, nama 2.0 muncul dari sebuah brainstorming untuk memberi nama kon¬ferensi tentang Web, yang berbeda dengan konferensi atau pertemuan tentang Web lain yang pernah dilakukan. Mereka berpenda¬pat bahwa sesuatu yang baru akan muncul. Dan inilah yang terjadi munculnya konsep Web 2.0 meski masih memiliki banyak ragam interpretasi. Awalnya Web 2.0 dimaksudkan untuk menjadikan Web sebagai landasan kerja (using the Web as a platform). Makna awal Web 2.0 ini tidak berumur panjang (Graham, 2005). Pergeseran makna muncul tahun berikut-nya (2005) dalam suatu sesi dipimpin Tim O’Reilly yang mencoba mendefinisikan ulang Web 2.0.
Batasan yang muncul adalah sederet kriteria berikut :
• web 2.0 menggunakan jaringan sebagai landasan kerja yang menjangkau semua peralatan terkoneksi;
• penerapan web 2.0 memanfaatkan keunggulan intrinsik landasan kerja tersebut;
• menyediakan peranti lunak yang secara kontinyu diperbaiki karena semakin banyak pengguna yang berpartisipasi dalam upaya itu;
• memakai dan memadukan data dari beragam sumber termasuk dari setiap individu pemakai;
• menyediakan data dan jasa dalam format yang memungkinkan dipadukan oleh pihak lain;
• menciptakan keunggulan jaringan dengan memakai arsitektur yang cocok untuk partisipasi banyak pihak;
• melebihi kemampuan Web 1.0 karena diperkaya oleh pengalaman para pengguna.
Kriteria di atas menunjuk pada dua hal yang saling mendukung dan menguatkan yaitu sisi teknologi dan sisi hubungan manusia dalam bentuk partisipasi. Sisi teknologi diwakili dengan kelompok peranti blogs, wikis, podcast, RSS, feeds, dll. Sisi sosial adalah dengan terbentuknya jejaring sosial yang akhir-akhir ini semakin meluas. Dengan kata lain web 2.0 adalah kecanggihan teknologi dan kekuatan partisipasi.
Dengan dua hal tersebut wajar bahwa ada pihak yang menaruh minat hanya pada teknologi, namun juga wajar jika ada pihak yang menaruh minat hanya pada partisipasi. Idealnya dua-duanya harus seimbang. Namun dalam suatu organisasi tidak semua orang memiliki dua kemampuan tadi secara seimbang. Dalam hal inilah tugas manajer untuk membangun tim dengan memadukan dua kekuatan tersebut. Karena sifatnya, teknologi selalu harus baru sedang partisipasi adalah klasik sehingga mudah membosankan. Oleh sebab itu banyak orang yang menyangka bahwa konsentrasi konsep 2.0 adalah pada teknologi. Padahal yang benar yang pertama adalah partisipasi, untuk meluaskan dan menguatkan partisipasi ini diperlukan teknologi yang mendukung.
Web 2.0 terbukti juga mengubah pola penyelenggaraan perpustakaan. Dengan teknologi ini memungkinkan pustakawan membangun cara baru penyelenggaraan perpustakaan dengan istilah Perpustakaan 2.0 (Library 2.0). Pengenalan akan konsep Perpustakaan 2.0 (P 2.0) telah penulis sampaikan dalam majalah Visi Pustaka nomor Agustus 2008 (Sudarsono, 2008). Sedang langkah penerapannya telah juga penulis sampaikan dalam tulisan berjudul Menerapkan Perpustakaan 2.0 (Sudarsono, 2009 b). Ide P 2.0 muncul dari Michael E. Casey dalam blognya yang bernama Library Crunch. Dikatakannya bahwa perpustakaan pada umumnya, teru¬tama perpustakaan khusus dapat memanfa¬atkan berbagai kelebihan Web 2.0.
Dalam konferensi Internet Librarian pada 2005 isu ini mulai diperdebatkan di kalangan pusta¬kawan. Seperti layaknya ide baru tentu ada pihak yang pro dan kontra. Pihak kontra mengatakan bahwa tidak ada perubahan mendasar dalam praktik kepustakawanan dengan menerapkan Web 2.0. Sedang pihak yang mendukung mengatakan bahwa de¬ngan menerapkan Web 2.0 maka ada ben¬tuk baru dari layanan perpustakaan.
Casey dan Laura C. Savastinuk, dalam Library Journal, 9/1/2006 yang berjudul Library 2.0 : Service for the next-generation library. mengatakan bahwa P 2.0 dapat mere¬vitalisasi cara kita berinteraksi dan melayani pengguna kita. Jantung P 2.0 adalah perubahan yang berpusat pada pengguna. Merupakan model layanan perpustakaan yang mendorong perubahan berkelanjutan yang berguna, dengan mengundang partisipasi pemakai dalam mencipta serta mengevaluasi baik layanan fisik maupun virtual yang mereka kehendaki. Juga berupaya mencari pengguna baru dan melayani pengguna yang sudah ada dengan lebih baik.
Batasan yang diberikan oleh Sarah Houghton tentang P 2.0 secara singkat adalah membuat ruang perpustakaan (baik fidik maupun virtual) menjadi lebih interaktif, kolaboratif, dan didorong oleh kebutuhan masyarakat pemakai. Awal upaya antara lain dengan menggunakan blogs, permainan (games), dan situs foto bersama. Hal yang mendasar adalah agar orang kembali menggunakan perpustakaan; dengan membuat perpustakaan sesuai dengan kehendak dan kebutuhan hidup keseharian para pemakai. Membuat perpustakaan sebagai tujuan utama dan bukan pilihan akhir. Semua itu secara ringkas dinyatakan oleh Blyberg dengan rumus:
library 2.0 = (books and stuff + people + radical trust) x participation
atau
Perpustakaan 2.0 = (koleksi + orang + keperca¬yaan radikal) x partisipasi
Hal yang sudah menjadi lazim dalam perpustakaan adalah koleksi dan orang. Namun parameter partisipasi agak langka, apalagi kepercayaan radikal. Padahal menurut persa¬maan di atas, partisipasi menjadi sangat menentukan karena sebagai faktor pengali. Meski nilai buku, orang, maupun kepercayaan radikal adalah tinggi, jika nilai partisipasi nol maka hasil persaman di atas juga nol besar! Jadi kunci dari P 2.0 adalah partisipasi baik pustakawan maupun pengguna perpustakaan. Tentang kepercayaan radikal yang juga masih langka dapat penulis uraikan bahwa :
• Tidak sembarang & asal percaya
• Idealnya kepercayaan yang saling menumbuhkan
• Berawal dari interaksi  menumbuhkan perkenalan  mengembangkan kepercayaan  dan berpuncak pada kepercayaan yang saling menumbuhkan sebagai syarat perpustakaan 2.0
Reorganisasi atas lembaga perpustakaan menjadi keharusan bagi yang menerapkan P 2.0. Tidak saja reorganisasi, bahkan dituntut untuk merevisi tugas dan kewajibannya secara mendasar. Dapat dikatakan P 2.0 akan meruntuhkan ortodoksi dan konservatisme perpustakaan. Ini akan menimbulkan perbedaan pendapat bahkan pertentangan dengan pihak otoritas. Jelas diperlukan keahlian khusus dalam menghadapi pihak otoritas. Seperti telah disebut sebelumnya bahwa P 2.0 tidak sekedar memperbaharui tampilan saja. Diperlukan perubahan radikal dari cara kerja pihak pemasok sistem perpustakaan dan informasi.
Dengan P 2.0 memungkinkan dan memerlukan kerjasama perpustakaan. Adagium yang selama ini dianut perpustakaan adalah tidak ada satu perpustakaanpun yang dapat memenuhi kebutuhan, meski kebutuhan sendiri. Artinya perpustakaan masih memerlukan perpustakaan lain untuk memperoleh informasi yang diperlukan. P 2.0 menjadikan kerjasama antar perpustakaan selain lebih mudah namun juga sebuah keniscayaan. Kenyataan itulah yang terjadi dalam perkembangan perpustakaan. Mungkin dapat dikatakan sebagai revolusi yang mendasar bagi keberlanjutan hidup perpustakaan. Revolusi ini lebih berupa revolusi menyangkut konsep keterbukaan sebuah perpustakaan. Sejauh mana keterbukaan itu? Blyberg menyebut perlunya delapan keterbukaan meliputi:
ruang, standar, data, sumber, pikiran, pertemuan, proses, dan dialog yang terbuka. Dengan delapan keterbukaan itu sebuah perpustakaan siap mengundang pengguna untuk memanfaatkan jasanya. Sebuah undangan: ”Silakan masuk kami sudah siap melayani”.
TRANSFORMASI PUSTAKAWAN
Telah penulis sebut di muka bahwa pada dasarnya perpustakaan adalah pustakawannya. Sehingga semua perubahan atau perkembangan sebuah perpustakaan selalu berawal dari diri pustakawannya. Dengan kata lain pustakwan selayaknya bertransformasi menuju pola pikir dan pola tindak baru yang mendukung perubahan tersebut. Dalam kaitannya dengan konsep P 2.0, diperlukan juga transformasi menjadi Pustakawan 2.0. Terminologi ini pertama kali disampaikan oleh Laura Cohen. Berikut adalah manifesto pustakawan 2.0 dan terjemahan penulis. Diharapkan manifesto ini dapat digunakan sebagai check list bagi pustakawan agar dapat selamat dalam perang di era global.
MANIFESTO PUSTAKAWAN 2.0
Posted by Laura Cohen on November 8, 2006 01:01 PM | Permalink
Library 2.0: An Academic Librarian's Perspective
http://liblogs.albany.edu/library20/2006/11/a_librarians_20_manifesto.html
• I will recognize that the universe of information culture is changing fast and that libraries need to respond positively to these changes to provide resources and services that users need and want.
• I will educate myself about the information culture of my users and look for ways to incorporate what I learn into library ser¬vices.
• I will not be defensive about my library, but will look clearly at its situation and make an honest assessment about what can be accomplished.
• I will become an active participant in mov¬ing my library forward.
• I will recognize that libraries change slowly, and will work with my col¬lea¬gues to expedite our responsive¬ness to change.
• I will be courageous about proposing new services and new ways of providing services, even though some of my colleagues will be resistant.
• I will enjoy the excitement and fun of positive change and will convey this to colleagues and users.
• I will let go of previous practices if there is a better way to do things now, even if these practices once seemed so great.
• I will take an experimental approach to change and be willing to make mistakes.
• I will not wait until something is perfect before I release it, and I'll modify it based on user feedback.
• I will not fear Google or related services, but rather will take advantage of these services to benefit users while also providing excellent library services that users need.
• I will avoid requiring users to see things in librarians' terms but rather will shape services to reflect users' preferences and expectations.
• I will be willing to go where users are, both online and in physical spaces, to practice my profession.
• I will create open Web sites that allow users to join with librarians to contribute content in order to enhance their learning experience and provide assistance to their peers.
• I will lobby for an open catalog that provides personalized, interactive features that users expect in online information environments.
• I will encourage my library's adminis¬tration to blog.
• I will validate, through my actions, librarians' vital and relevant professional role in any type of information culture that evolves. • Saya menyadari bahwa semes¬ta buda¬ya informasi selalu cepat berubah, dan per¬pus¬ta¬kaan perlu menjawabnya secara posi¬tif da¬lam menyedia¬kan sum¬ber daya dan layan¬an yang di¬perlukan dan diinginkan pengguna,
• Saya akan mendidik diri sendiri tentang budaya informasi pengguna perpustakaan saya dan mencari jalan untuk menyertakan apa yang saya pelajari dalam layanan per¬pus¬taka¬an saya.
• Saya tidak akan bersifat defensif tentang perpustakaan saya, namun akan menyimak dengan jelas situasinya dan melakukan peng¬ka¬jian secara jujur ten¬tang apa yang dapat dicapai.
• Saya akan aktif berpartisipasi da¬lam me¬¬ma¬ju¬kan perpustakaan saya.
• Saya menyadari bahwa perpustakaan lam¬bat berubah, dan akan bekerja ber¬sama kole¬ga untuk mempercepat ta¬ng¬gap kami pada perubahan itu.
• Saya akan berani mengusulkan layanan, serta cara baru dalam menyediakannya, meski ada kolega yang menolak.
• Saya akan menikmati gairah dan kegembi¬raan atas perubahan positif dan akan me¬nyam¬paikannya kepada sejawat maupun pengguna.
• Saya akan mengganti cara lama jika dite¬mu¬kan cara yang lebih baik dalam menger¬jakan sesuatu, meski cara lama itu pernah hebat.
• Saya akan melakukan percobaan untuk berubah dan akan siap jika melakukan kesalahan
• Saya tidak akan menunggu sesatu menjadi sempurna sebelum saya melun¬curkannya, dan akan mengubahnya ber¬basis masukkan pengguna
• Saya tidak akan takut pada Google dan layanan terkait, namun akan berupaya mengambil manfaatnya untuk keun¬tung¬an pengguna, sambil tetap membe¬ri¬kan layan¬an prima yang diperlukan oleh pengguna.
• Saya akan menghindari mensyaratkan peng¬gu¬na dengan jargon pustakawan, na¬mun akan mengubah layanan yang mencer¬minkan pi¬lih¬an dan harapan pengguna.
• Saya akan bersedia menghampiri pe¬ma¬kai baik on-line maupun dalam ru¬ang fisik dalam mempraktikkan profesi saya..
• Saya akan membuat situs web terbuka yang memungkinkan pengguna bersama pustaka¬wan menyum¬bang isi dalam rangka mening¬katkan pengalaman pembelajaran dan mem¬be¬rikan bantuan pada para kelompok ahli
• Saya akan melobi untuk membuat katalog terbuka yang menyediakan fitur personal dan interaktif seperti yang diharapkan pengguna dalam ling¬kungan sistem informasi online
• Saya akan mendorong administrasi (mana¬jemen) perpustakaan saya untuk membuat blog.
• Saya akan mencocokkan melalui kegiatan saya peran profesional baik vital maupun terkait dalam setiap budaya informasi yang berubah.

[+/-] Selengkapnya...

KOMPETENSI DAN SERTIFIKASI PUSTAKAWAN: DITINJAU DARI KESIAPAN DUNIA PENDIDIKAN ILMU PERPUSTAKAAN oleh: Ninis Agustini Damayani


PENDAHULUAN
Era globalisasi yang salah satu tandanya adalah kehadiran informasi dalam jumlah yang sangat besar secara terus menerus dari berbagai penjuru dunia, merupakan fenomena yang terjadi begitu saja tanpa seorangpun mengantisipasinya. Globalisasi 3.0 yang terjadi pada tahun 2000 telah menyusutkan dunia yang kecil menjadi sangat kecil namun sekaligus menjadi kekuatan baru yang ditemukan untuk bekerjasama dan bersaing secara individual di kancah global. Fenomena tersebut oleh Friedman (2006:10) dikatakan sebagai tatanan dunia datar (flat-world-platform) yaitu konvergensi antara komputer pribadi dimana setiap individu dapat menjadi komunikator sekaligus komunikate tanpa menghiraukan jarak antar mereka, sehingga memungkinkan mereka secara bersama-sama mengerjakan suatu materi digital atau berbagi informasi secara online.
___________________________________________________________________
*Disampaikan pada Seminar Nasional Perpustakaan dengan tema “Kompetensi dan Sertifikasi Pustakawan dalam Menghadapi Tantangan dan Persaingan Global” yang diselenggarakan oleh Perpustakaan Institut Pertanian Bogor, pada hari Rabu, tanggal 14 September 2011, di IPB-ICC Bogor.
** Dosen Jurusan Ilmu Informasi dan Perpustakaan, Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Padjadjaran.

Kekuatan individu dan kelompok-kelompok kecil sebagai motor penggerak globalisasi semakin nyata dengan adanya mesin pencari seperti google, yahoo dan lain-lain serta maraknya jejaring sosial seperti facebook, twitter dan lain-lain. Mereka secara individual maupun berkelompok menghilangkan batas negara untuk berinteraksi, membahas dan menyelesaikan satu masalah yang sama bersama-sama.
Namun demikian, hadirnya informasi yang begitu beragam dan dalam jumlah yang begitu besar secara terus menerus ternyata tidak selalu membuat hidup menjadi lebih mudah. Memilih dan menentukan informasi yang paling dibutuhkan dengan skala prioritas ternyata sulit dan butuh keahlian. Globalisasi 3.0 amat membutuhkan hadirnya seseorang yang memiliki kompetensi mengelola informasi agar informasi yang tepat dapat sampai pada orang yang tepat, pada waktu yang tepat, dan dengan format dan cara yang tepat, serta di tempat yang tepat pula. Orang bijak mengatakan bahwa keputusan yang tepat diambil atas dasar informasi yang tepat.
Kemudian siapakah seseorang dengan kompetensi seperti itu?. Di Indonesia dia biasa disebut sebagai pustakawan. Sebutan bagi seseorang yang memiliki kompetensi yang diperoleh diperoleh melalui pendidikan dan/atau pelatihan kepustakawanan serta mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk melaksanakan pengelolaan dan pelayanan perpustakaan.[1] Mengapa Pustakawan?, karena Penyelenggara Pendidikan Ilmu Perpustakaan di Indonesia pada prinsipnya menghasilkan lulusan yang memiliki kemampuan mengelola informasi mulai dari collecting, processing, disseminating and preserving of information.
KOMPETENSI
Ada beberapa pengertian kompetensi yang digunakan di Indonesia;
1. UU No. 20/2003 tentang Sisdiknas penjelasan pasal 35 (1):
Kompetensi lulusan merupakan kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap, Pengetahuan, dan keterampilan sesuai dengan standard nasional yang telah disepakati
2. UU No. 13/2003 tentang Ketenagakerjaan : pasal 1 (10)
Kompetensi adalah kemampuan kerja setiap individu yang mencakup aspek pengetahuan, keterampilan dan sikap kerja yang sesuai dengan standar yang ditetapkan
3. Keputusan Kepala Badan Kepegawaian Negara Nomor 46A Tahun 2003 Tanggal 21 Nopember 2003
Kompetensi adalah kemampuan dan karak-teristik yang dimiliki seorang Pegawai Negeri Sipil berupa pengetahuan, keterampilan, dan sikap perilaku yg diperlukan dalam pelaksanaan tugas jabatannya, sehingga Pegawai Negeri Sipil tersebut dapat melaksanakan tugasnya secara professional, efektif, dan efisien.
4. Surat Keputusan Mendiknas nomor 045/U/2002. tentang Kurikulum Inti Perguruan Tinggi mengemukakan :
Kompetensi adalah seperangkat tindakan cerdas, penuh tanggungjawab yang dimiliki seseorang sebagai syarat untuk dianggap mampu oleh masyarakat dalam melaksanakan tugas-tugas di bidang pekerjaan tertentu
5. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No 101 Tahun 2000, Tentang Pendidikan dan Pelatihan Jabatan pegawai Negeri Sipil
Kompetensi adalah kemampuan dan karateristik yang dimiliki oleh Pegawai Negeri Sipil berupa pengetahuan, keterampilan, dan sikap – prilaku yang diperlukan dalam pelaksanaan tugas jabatannya
Dari pengertian-pengertian di atas maka kompetensi dapat diartikan sebagai kemampuan seseorang untuk mencapai keberhasilan dalam melaksanakan tugas yang mencakup pengetahuan, keterampilan, sikap dan perilaku. Sekarang bagaimana dengan kompetensi pustakawan?.
KOMPETENSI PUSTAKAWAN
Seperti telah disampaikan sebelumnya bahwa pustakawan harus memilki kemampuan mengelola informasi yang mencakup;
(1) Collecting of information
Mengumpulkan tidak lagi berarti harus menyimpan dalam satu ruangan/gedung tertentu tetapi tahu dimana informasi berada dan bagaimana mengaksesnya sesuai yang dibutuhkan pemustaka sasaran. Oleh karenanya Pustakawan harus memiliki: pengetahuan tentang sumber-sumber informasi, pengetahuan, keterampilan, sikap perilaku penelusuran informasi, pengetahuan, keterampilan, sikap perilaku penggunaan/pengoperasian teknologi informasi dan komunikasi, pengetahuan, keterampilan, sikap perilaku mengenal pemustaka sasaran dan kebutuhan informasinya. Stueart dan Moran (2002:8-9) menjelaskan bahwa telah terjadi pergeseran paradigm pada sumber-sumber informasi seperti berikut; jika dulu pepustakaan harus memiliki sendiri koleksinya dan disimpan dalam satu bentuk media (cetak), maka dewasa ini koleksi pepustakaan juga ada yang bersifat virtual dan disimpan dalam bebagai bentuk media (cetak dan non cetak). Perubahan ini juga memerlukan kesiapan mental untuk berbagi informasi dengan yang lain juga kesadaran adanya desentralisasi informasi. Literasi informasi juga merupakan kemampuan penting yang harus dimiliki pustakawan agar dapat merujuk informasi yang akurat.
(2) Processing of information
Memproses atau mengolah informasi berarti membuat informasi yang dibutuhkan mudah ditemukan kembali oleh pemustaka sasaran. Sistem informasi apapun yang digunakan prinsipnya adalah user friendly. Oleh karenanya pustakawan harus memiliki pengetahuan, keterampilan, sikap perilaku pengolahan informasi, seperti katalogisasi, klasifikasi baik secara manual maupun berbasis teknologi. Pustakawan juga harus memiliki pengetahuan, keterampilan, sikap perilaku penggunaan/pengoperasian teknologi informasi dan komunikasi.
(3) Disseminating of information
Menyebarkan informasi berarti memberikan layanan informasi seperti yang diinginkan pemustaka sasaran yang diperoleh melalui riset pasar. Oleh karenanya pemustaka harus memiliki pengetahuan, keterampilan, sikap perilaku melaksanakan penelitian/kajian/identifikasi pemustaka guna memperoleh gambaran yang jelas tentang karakteristik pemustaka sasaran sehingga dapat dirancangkan model layanan informasi yang sesuai dan tepat sasaran. Selain itu pustakawan harus memiliki pengetahuan, keterampilan, sikap perilaku marketing agar produk perpustakaan, baik itu berbentuk barang, jasa, dan ide yang disediakan/ditawarkan diketahui dan dimanfaatkan pemustaka sasaran. Pergeseran paradigm layanan informasi yang semula hanya pasif menyimpan informasi/koleksi pustaka, menjadi aktif menekankan pada nilai tambah, kekhususan, keunikan dari layanan informasi/koleksi pustaka yang disediakan/ditawarkan. Pergeseran paradigm juga terjadi pada orientasi pemustaka, dimana kebutuhan dan keinginan mereka menjadi fokus dari semua perencanaan, implementasi, dan evaluasi kegiatan perpustakaan (Stueart dan Moran, 2006:10-11). Seperti juga dijelaskan oleh Roberts and Rowley (2004:129) bahwa “collecting data and information on customers provide basis for forming groups or segments of customers, so that it is possible to consider their different expectations, needs and value sets and to respond accordingly”.
Selanjutnya pengetahuan dan keterampilan komunikasi baik dalam bentuk komunikasi interpersonal, kelompok, organisasi ataupun massa juga harus dimiliki pustakawan sebagai upaya menjalin hubungan dan membangun kesamaan makna dengan cara yang sesuai dengan stakeholder. Roberts and Rowley (2004:39-40) menjelaskan, bahwa “excellent interpersonal skills are essential not only when mamging staff but when fostering produvtive relationship at all levels – with users both within and outside an organization”. Konstruksi makna bersama yang dibangun lewat pertukaran simbol baik verbal maupun non-verbal, secara langsung ataupun melalui media ditujukan untuk memenuhi harapan pemustaka sasaran. Seperti dijelaskan oleh Totterdell (2005:99), bahwa “library and information staff need to be polite (but never obsequious on the one hand or patronizing on the other), friendly (but always professional) and always able to behave in a courteous, patient and tactful manner”. Selanjutnya Totterdel menambahkan, bahwa “library and information staff need to give the user their complete attention – with proper but not excessive eye contact – during the interaction”.
Membangun pemustaka yang literat juga merupakan hal paling penting dari layanan perpustakaan/informasi yang dapat dilakukan melalui kegiatan-kegiatan yang kreatif, inovatif dan mengedepankan selera pemustaka. Prinsip one game one customer dapat diadaptasi untuk memberikan kepuasan layanan perpustakaan/informasi. Menjadi bagian dari sebuah komunitas atau kelompok yang memiliki kebutuhan dan peminatan yang sama menjadi penting ketika pengetahuan dikonstruksi bersama orang lain. Dengan kata lain menjadi literat merupakan usaha yang dibangun bersama orang lain. Oleh karenanya pustakawan harus menjadi kreator,fasilitator, dan motivator bagi terbangunnya pemustaka-pemustaka yang literat. (Damayani,2011).
(4) Preserving of Information
Menyelamatkan hasil pikir manusia yang terekam dan terdokumentasikan melalui cara-cara yang aman bagi kepentingan pengembangan pengetahuan dan peradaban juga menjadi tanggung jawab pustakawan. Mengoptimalkan usia pendayagunaan koleksi pustaka/informasi dari generasi satu ke generasi lain menjadi penting mengingat manusia mengembangkan diri melalui pengetahuan yang diperolehnya dari hasil pikir manusia-manusia terdahulu. Oleh karenanya pustakawan harus memiliki pengetahuan dan ketrampilan preservasi preventif yang memadai mulai dari seleksi akuisisi, penyimpanan, dan diseminasi koleksi pustaka/informasi untuk menghindari atau meminimalkan kerusakan.
Melalui pemaparan tentang kompetensi pustakawan maka dapat disimpulkan bahwa kompetensi berupa kemampuan yang harus dimiliki pustakawan terdiri dari hard skill dan soft skill. Hard skill berupa kemampuan kerja mengelola informasi (collecting, processing, disseminating, preserving) secara teknis, termasuk berbasis teknologi informasi dan komunikasi, bagi terselenggaranya kegiatan layanan perpustakaan/informasi. Adapun soft skill berupa kemampuan membangun relasi, interaksi dan bekerjasama dengan dengan orang lain dalam mengelola informasi (collecting, processing, disseminating, preserving), seperti communication skill, interpersonal skill, entrepreneurship, leadership.
SERTIFIKASI.
Pemberian serifikasi telah diatur oleh Peraturan Pemerintah (PP) No. 23 Tahun 2004, tentang Badan Nasional Sertifikasi Profesi.
Dalam PP NO 23 Tahun 2004 ini menjelaskan, bahwa Sertifikasi kompetensi kerja merupakan suatu proses pemberian sertifikat kompetensi yang dilakukan secara sistimatis dan objektif melalui uji kompetensi yang mengacu kepada standar kompetensi kerja nasional Indonesia dan atau Internasional. Adapun Standar Kompetensi Nasional Indonesia adalah rumusan kemampuan kerja yang mencakup aspek pengetahuan, keterampilan dan atau keahlian serta sikap kerja yang relevan dengan pelaksanaan tugas dan syarat jabatan yang ditetapkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.[2]
Adapun sertifikasi pustakawan merupakan pengakuan terhadap kemampuan seseorang dalam bidang kepustakawanan dan informasi oleh suatu asosiasi profesi /lembaga.
Sertifikasi pustakawan sebagi bentuk pengakuan pengetahuan, keterampilan, sikap perilaku di bidang ilmu informasi dan perpustakaan menjadi sangat penting di tengah isyu kegalauan eksistensi pustakawan dan perpustakaan serta keilmuannya. Dengan adanya sertifikasi diharapkan semua pihak baik pemberi sertifikasi dan penerima sertifikasi memahami betul perlunya tenaga pustakawan yang kompeten di bidangnya untuk mengantar bangsa Indonesia menjadi bangsa yang literat yaitu bangsa yang cerdas, kritis dan etis. Sertifikasi pustakawan dapat merupakan titik balik bagi kepedulian yang dalam pada pustakawan, perpustakaan dan keilmuannya. Adapun pihak-pihak yang melakukan uji kompetensi dalam rangka pemberian sertifikasi pustakawan, (dapat diusulkan) merupakan gabungan unsur praktisi pustakawan dan akademisi bidang Ilmu informasi dan Perpustakaan.
KESIAPAN PENYELENGGARA PENDIDIKAN ILMU PERPUSTAKAAN
Penyelenggara Pendidikan Ilmu Informasi dan Perpustakaan memiliki peran besar untuk menghasilkan pustakawan-pustakawan yang memiliki kompetensi yang sanggup menjawab tantangan dan persaingan global. Namun tak kalah penting tangan-tangan dingin dan pengalaman para pustakawan senior di tempat mereka bekerja akan melengkapi pengetahuan, ketrampilan, serta sikap perilaku mereka agar sesuai standar yang ditetapkan. Penyelenggara Pendidikan Ilmu Informasi dan Perpustakaan di Indonesia berjumlah lebih kurang 23 dan terdiri dari jenjang D3, S1, dan S2. Meski masing-masing Program Studi Ilmu Pepustakaan ini tidak berada pada Fakultas yang sama, seperti JIIP UNPAD dibawah FIKOM, sedang JIIP UI dibawah FIB dll, namun perbedaan tersebut justru merupakan nilai tambah bagi masing-masing.
PENUTUP
Persaingan global merupakan tantangan berat bagi semua profesi termasuk pustakawan. Kebutuhan informasi dan cara memperoleh informasi yang semakin beragam karena perbedaan karakteristik pemustaka membutuhkan pustakawan-pustakawan yang memiliki kompetensi tinggi baik hard skill dan soft skill. Peningkatan pengetahuan, keterampilan, serta sikap perilaku dalam pengelolaan informasi melalui pendidikan dan juga pelatihan merupakan keharusan bagi pustakawan agar lebih berkualitas dan siap tersertifikasi. Selanjutnya pengembangan pustakawan berkualitas dan memiliki sertifikasi pustakawan harus menjadi bagian dari pengembangan perpustakaan itu sendiri.
DAFTAR PUSTAKA
Friedman, Thomas L. 2006. The World is Flat: Sejarah Ringkas Abad Ke-21.
(Terjemahan). Jakarta:Dian Rakyat.
Roberts, Sue. Dan Rowley, Jennifer. 2004. Managing Information Services. London:
Facet. Rubin, Richard E. 2004. Foundations of Library and Information Science.
2d.ed. New York: Neal-Schuman.
Stueart, Robert D. dan Moran, Barbara B. 2002. Library and Information Center
Management. 6th.ed. Westport: Greenwood.
Totterdell, Anne. 2005. Library and Information Work. London: Facet.
SUMBER LAIN
Damayani, Ninis Agustini. 2011. Komunitas Literer Bandung: Studi Fenomenologi
pada Individu yang Terlibat dalam Pergerakan Literasi Informasi. Disertasi
Program Pasca Sarjana Universitas Padjadjaran.
Perpustakaan Nasional RI. 2007. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 43
tahun 2007 Tentang Perpustakaan.

________________________________________
[1] Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2007 Tentang Perpustakaan
[2] http://www.pu.go.id/satminkal/itjen/hukum/pp23-04.htm, diakses 4 September 2011

[+/-] Selengkapnya...